Chapter 2
Aku segera membereskan
peralatan sholatku, dan bergegas menuju kampus. Karena sekitar satu jam lagi,
kelas dimulai.
Saat menuju gerbang
keluar, aku berpapasan dengan ummi Aisyah.
“Assalamu’alaikum, Um.”
Sapa kami.
“Wa’alaikumussalam
warohmatulloh.” Jawab ummi Aisyah.
“Um, kami pamit ke
kampus dulu ya.” Ucapku.
“Iya, sayang. Izinnya
jangan lama-lama. Ummi kangen.” Jawab beliau.
“Ah, ummi bisa aja.”
Ujarku tersenyum malu.
“Insya allah Um.”
Lanjutku.
“Kalau begitu, kami
pamit dulu ya Um.” Pamit Naisya.
Tak lupa, kami mengucapkan
salam dan mencium tangan beliau. Ummi balas mencium pucuk kepala kami. Duh,
terharu. Jadi inget ummi kan ?
“Enak ya, tinggal di
pondok. Suasananya bikin nyaman gitu. Duh, jadi pengen mondok kan ?” ucap
Naisya.
“Ya udah, mondok aja
bareng aku.” Jawabku.
“Tapi gimana sama
anak-anak TPA dekat rumah ? Mereka juga membutuhkan pelajaran agama kan ?”
tanyanya.
“Iya juga sih ! Tapi,
kamukan bisa mengaji dari ustadzah-ustadzah dekat rumahmu ?” tanyaku memberikan
solusi.
“Aku juga suka mengaji
dari beliau-beliau. Tapi, ya sudahlah.” Ucapnya pasrah.
“Eh, sekarang pelajaran
siapa ya ?” tanyaku.
“Pak Ibrahim.” Jawab
Naisya.
...
Jam menunjukkan pukul
15.00. menandakan waktu ‘ashar sebentar lagi.
“Ya sudah, cukup sekian
materi hari ini. Jangan lupa, tugasnya dikerjakan.” Ucap Pak Ibrahim.
“Baik, pak.” Jawab
seluruh prnghuni kelas.
“Langsung ke Mushola
yuk !” ajak Naisya.
“Ok. Bentar, aku
beresin buku dulu.” Ucapku seraya memasukkan buku ke dalam tas.
“Allahu akbar, Allahu akbar.”
Terdengar adzan dari
mushola kampus. Aku segera membuka sepatu dan menuju kamar mandi khusus wanita.
Setelah itu, bergegas masuk ke mushola. Kemudian melaksanakn sholat sunnah
masjid dan qobliyah ‘ashar. Terdengar suara iqomah dikumandangkan, aku segera
merapatkan shof.
Drrtt...drtt...
Suara handphoneku
berbunyi. Disana, tertulis nama kakakku, Yusuf. Segera aku mengangkat
teleponnya.
“Assalamu’alaikum kak.”
Ucapku.
Terdengar balasan dari
seberang sana.
“Iya kak, ini aku lagi
di teras masjid.” Jawabku.
“Nay, aku duluan ya.
Udah di tunggu kakakku nih.” Ucapku pada Naisya.
“Iya, hati-hati.”
Jawabnya.
Di parkiran sana,
nampak seorang laki-laki dengan setelan kaos dipadukan celana diatas mata kaki
sedang duduk diatas motor matic
berwarna merah. Ia melihat ke arahku sambil melambaikan tangannya.
“Pak.” Sapaku sambil
tersenyum ketika Pak Ibrahim lewat di depanku dan tersenyum.
“Mau pulang ?”
tanyanya.
“Iya pak.”jawabku.
“Dengan siapa ?”
tanyanya kembali.
“Hana ! “ panggil Kak
Yusuf sambil melihatku tidak suka dan membuat Pak Ibrahim menoleh ke arah
sumber suara. Ada raut tidak suka dari wajah Pak Ibrahim, namun berusaha
disembunyikannya.
“Mari, Pak !” pamitku
pada beliau.
Aku segera berlari
menuju motor kakak.
“Kak, aku bisa
sendiri.” Ucapku kesal. Bagaimana tidak kesal, aku dipakaikan helm oleh dia.
Padahal akupun bisa. Hal itu, membuat orang-orang melihat ke arah kami.
“Udah, cepetan naik !”
suruhnya.
Aku segera naik.
“Pegangan.” Titahnya
lagi.
Akupun menuruti apa
yang dikatakan kakakku, memegang pinggangnya.
Kami pun, bergegas
pergi.
“Kenapa sih, Kak, harus
buru-buru pulang ?” tanyaku saat di perjalanan.
“Padahalkan, belum jam
empat.” Lanjutku.
“Ayah mau pulang.”
Jawabnya datar sedatar-datarnya.
“Hah, are you seriously ?” tanyaku tidak
percaya.
“Iya bener. Jangan
teriak. Berisik.”jawabnya ketus.
Namun, aku tak perduli.
Yang sekarang aku perdulikan adalah kedatangan Ayah. Bahagianya tak terkira.
Ish, apaan sih !
“Assalamu’alaikum.”
Ucap kami saat masuk ke rumah.
Ku lihat Ayah sedang
duduk di sofa didampingi Ibu. Segera ku dekati Ayah dan memeluknya.
“Lho, kok kamu pulang ?
Izin dari pondok ?” tanya Ayah tak menjawab salamku.
“Ayah, jawab dulu
salamku.” Ucapku pura-pura cemberut.
“He..he iya.
Wa’alaikumussalam.” Jawab ayah disertai kekehannya.
Kakakku lekas menuju
kamarnya setelah menyalami Ayah dan Ibu. Ia terlihat malas bergabung dengan
kami. Entahlah, setelah kepergian Ummi, ia lebih pendiam dan serius. Mungkin
terpukul karena ditinggal orang yang sangat dicintainya.
“Uang yang Ayah kasih,
sudah diterima ?” tanya Ayah.
Ayah
mengirim uang ?
Ku lihat ibu menatapku dengan
tatapan tajam. Di buat takut karenanya.
“Eh iya Yah. Sudah kok
!” jawabku sedikit gugup.
“Awas ya, jangan
dihabiskan lagi uangnya. Tabung sedikit-sedikit.” Ujarnya.
“Iya Yah.” Jawabku
terheran-heran.
Pasalnya, akhir-akhir
ini aku tidak pernah menerima uang dari Ayah. Kalaupun ada, pasti ada
pemberitahuan notif dari handphoneku.
“Ibumu bilang, kalau
kamu selalu minta uang tambahan. Ayah fikir kamu mulai boros. Jadi Ayah
transfer ke rekening ibumu.” Ucap Ayah seolah mengerti keherananku.
Ku lihat, ibu tersenyum
sinis ke arahku. Aku hanya mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku hanya bisa
beristigfar dalam hati. Sejak kapan aku boros ? Kebiasaan yang ku lakukan
adalah selalu menyisihkan sebagian uang untuk keperluanku kelak. Sehingga, ketika
membutuhkan, aku tidak lagi meminta kepada Ayah.
“Oh, iya Yah. Ya udah
aku ke kamar dulu.” Pamitku.
...
Kebiasaan keluarga
Hamid adalah makan malam bersama setelah menunaikan shalat ‘isya. Disinilah
sekarang, Hana, Yusuf, Hamid dan Olivia berkumpul. Menikmati hidangan yang
telah tersaji sejak beberapa menit lalu. Olivia atau biasa di panggil Oliv
sesekali melirik ke arah anak sulung Hamid, Yusuf, yang membuat Yusuf sedikit
risih. Yusuf yang menyadari tatapan dari Oliv, segera menghabiskan makanan dan
bergegas masuk ke dalam kamar. Hal itu menarik perhatian Hana. Ia kemudian
melirik ke arah Ibunya yang terciduk sedang memperhatikan kakaknya. Hana tahu
sekarang, kenapa kakaknya selalu meminta pulang untuk menemaninya. Selain
karena ‘gangguan’ Ibu mudanya, Hana seringkali di ajak berdiskusi masalah tugas
atau hal lain yang menambah wawasan.
Hana pun segera
menghabiskan makanannya dan menghampiri Yusuf, yang ternyata tengah membaca
buku di perpustakaan mini di samping kamar Hana.
“Kak !” Panggil Hana segera
duduk di samping Yusuf.
“Eh, kamu udah selesai
makannya ?” tanya Yusuf.
“Biasanya juga lama.”
Tambahnya.
“Ih, kakak nyebelin
deh.” Balas Hana dengan memasang wajah cemberut.
Yusuf terkekeh,
menampilkan deretan gigi putuh bersihnya.
Mereka akhirnya terlibat
obrolan asyik. Sesekali Yusuf maupun Hana tertawa yang membuat suasana semakin
akrab.
Namun, ada sosok yang
terus memperhatikan mereka dengan wajah ketidaksukaannya di balik pintu.
Aku
harus mendapatkannya. Ucapnya sambil mengepalkan tangan.
...
“Sarapan dulu sayang.”
Ucapnya sambil membawakan roti isi. Ia mengucapkannya dengan nada yang di
buat-buat. Yusuf terlihat tidak suka akan hal itu.
“Ayah, Hana mana ?”
Tanya Yusuf ketus.
“Mungkin, mereka sedang
bersiap-siap di kamarnya.” Jawab Oliv seraya duduk di samping Yusuf, membuat
Yusuf tidak betah dibuatnya.
Yusuf hendak pergi ke
dapur, namun tangannya di tahan oleh Oliv. Otomatis, ia menghempaskan tangannya
dengan keras, membuat Oliv merasa kesakitan.
Yusuf mengambil kotak
makan yang cukup lebar. Ia membawanya ke meja makan dan mengisinya dengan
beberapa helai roti isi.
Suara pintu terdengar
dari kamar Hana, menmpilkan sosok gadis dengan setelan gamis berwarna hijau
tuanya yang dipadukan dengan khimar berwarna senada.
“Dek, ayo kita
berangkat. Udah siang.” Ajak Yusuf dengan kotak makan di tangannya.
Hana keheranan. Namun,
setelah tau situasi yang terjadi, ia pun paham dan segera mengikuti kakaknya
keluar.
“Bu, kami pamit dulu.”
Ucap Yusuf saat hendak keluar diikuti oleh Hana dibelakangnya.
“Kami pamit Bu.
Assalamu’alaikum.” Ucap Hana sambil mencium tangan Oliv. Namun, Oliv segera
menepisnya.
Hana terlonjak kaget
dibuatnya. Ia pun segera keluar karena disana kakaknya telah menunggu.
“Ayo naik !” Titah
Yusuf.
Hana pun segera naik.
...
Sesampainya di kampus,
jam masih menunjukkan pukul 07.00, artinya kelas Hana akan dimulai satu jam
lagi, begitupun dengan Yusuf.
“Dek, temenin sarapan
di kantin.” Ucap Yusuf.
“Iya kak. Laper ini.”
Jawab Hana memegang perutnya, di tambah wajahnya yang di buat lucu. Hal itu membuat
Yusuf tersenyum lebar, kemudian di rangkulnya bahu Hana. Orang yang belum
mengenal mereka, mungkin mengira bahwa mereka adalah pasangan kekasih.
Mereka mengobrol di
tengah perjalanan menuju kantin, sesekali diselingi tawa. Raut bahagia
terpancar di wajah mereka, seolah-olah tidak ada beban.
“Pak.” Sapa Hana saat
berpapasan dengan Ibrahim di koridor.
Ibrahim hanya
tersenyum. Ada ketidakrelaan di hatinya melihat Hana di rangkul laki-laki lain.
Namun, ia segera menyembunyikannya. Ia juga tersenyum kepada laki-laki yang
merangkul Hana, yang tak lain adalah Yusuf. Yusuf pun membalasnya dengan
senyuman.
“Siapa dia ?” tanya
Yusuf setelah agak jauh dari Ibrahim.
“Oh, dia itu dosen aku
kak.” Jawab Hana.
“Kok, kakak baru liat
ya ?” tanya Yusuf.
“Soalnya, kakak sibuk
pacaran sama buku, jadi tak sempat liat sekitar deh.” Jawab Hana diikuti senyum
jailnya.
“Ish, apaan sih dek.”
Jawab Yusuf kesal.
Hana terkekeh, karena
berhasil membuat Yusuf kesal.
“Hana !” terdengar
suara nyaring menggema di kantin yang sepi ini.
Dia segera menghampiri
Hana dan duduk di sebelahnya.
“Sarapan Han ?” tanya
Naisya sambil mengeluarkan kotak makan berwarna pink.
“Iya nih, belum sempat
sarapan di rumah. Jadi dibawa kesini.” Jawab Hana.
“Kok, porsinya besar
sih ?” tanya Naisya heran.
“Iya, sarapan untuk kak
Yusuf juga.” Jawab Hana.
“Berarti ia ada disini
dong ?” tanya Naisya panik.
“Iya, tuh lagi beli
minum.” Jawab Hana menunjuk salah satu kedai yang sudah buka dari jam enam pagi
itu.
Disana terdapat
seseorang yang mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kaos berwarna putih
bertuliskan don’t worry, be happy.
“Gak jadi sarapan
disini deh.” Ujar Naisya sambil membereskan kembali kotak makan yang telah
dibukanya.
“Eh, kenapa ?” tanya
Hana bingung.
“Aku takut merusak quality time kalian.” Jawab Naisya
memberi alasan.
“Beneran ?” tanya Hana
dengan senyuman jahil.
“I..iya.” jawab Hana
gugup.
“Kok, jawabnya gugup
gitu sih ?” tanya Hana memancing jawaban jujur Naisya.
“Ah, sudahlah. Aku
pergi dulu. Jangan telat masuk kelas.” Pesan Naisya terburu-buru karena melihat
Yusuf mendekati meja mereka.
Naisya segera pergi
dengan sedikit berlari. Ia merasa malu jika bertemu Yusuf. Jujur, ia mengagumi
sosok Yusuf. Nama yang sama dengan nabi Yusuf yang memiliki paras tampan yang
membuat wanita tidak merasakan sakit ketika tangannya terisi pisau sendiri.
Naisya mengagumi Yusuf
karena cerdas, fasih dalam berbicara, dan kelebihan lainnya yang membuat semua
wanita terkagum-kagum padanya.
“Tadi, siapa Dek ?”
tanya Yusuf sambil menyodorkan air mineral.
Ia lupa membawa air
putih dari rumahnya, sehingga ia terpaksa membeli.
“Oh, Naisya. Dia
sahabatku kak.” Jawab Hana sambil memakan roti isinya.
“Cantik.” Ucap Yusuf
nyaris tak terdengar.
“Apa kak ?” tanya Hana.
“Eh, enggak.” Jawab
Yusuf.
Ia bersyukur, ternyata
Hana tak mendengar apa yang barusan terucap oleh lidahnya. Bisa gawat jika Hana
tau. Ia akan menjadi sasaran ledekan Hana.
“Ayo kak, makan. Nanti
telat.” Ucap Hana.
Mereka pun segera
menyantap makanan dengan lahapnya di tengah keadaan kantin yang mulai ramai. Fyi,
kantin ini cukup ramai meskipun masih pagi. Hal ini dikarenakan, banyak
mahasiswanya yang memilih sarapan di kantin. Terlepas memakan makanan dari
rumah maupun dari kantin. Itulah sebabnya, beberapa pedagang sudah membuka
warungnya pagi-pagi.
Komentar
Posting Komentar