Langsung ke konten utama

Postingan

Chapter 2

Chapter 2 Aku segera membereskan peralatan sholatku, dan bergegas menuju kampus. Karena sekitar satu jam lagi, kelas dimulai. Saat menuju gerbang keluar, aku berpapasan dengan ummi Aisyah. “Assalamu’alaikum, Um.” Sapa kami. “Wa’alaikumussalam warohmatulloh.” Jawab ummi Aisyah. “Um, kami pamit ke kampus dulu ya.” Ucapku. “Iya, sayang. Izinnya jangan lama-lama. Ummi kangen.” Jawab beliau. “Ah, ummi bisa aja.” Ujarku tersenyum malu. “Insya allah Um.” Lanjutku. “Kalau begitu, kami pamit dulu ya Um.” Pamit Naisya. Tak lupa, kami mengucapkan salam dan mencium tangan beliau. Ummi balas mencium pucuk kepala kami. Duh, terharu. Jadi inget ummi kan ? “Enak ya, tinggal di pondok. Suasananya bikin nyaman gitu. Duh, jadi pengen mondok kan ?” ucap Naisya. “Ya udah, mondok aja bareng aku.” Jawabku. “Tapi gimana sama anak-anak TPA dekat rumah ? Mereka juga membutuhkan pelajaran agama kan ?” tanyanya. “Iya juga sih ! Tapi, kamukan bisa mengaji dari ustadzah-ustadzah dekat ...
Postingan terbaru

Novel

Karena Hijrahku Karena DIA Prolog   Hijrah... Kata yang sangat familiar ditelinga kita akhir-akhir ini. Hijrah pada zaman nabi adalah berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Di zaman sekarang, hijrah dijuruskan terhadap arti berpindah, pindah dari perilaku jahil menuju perilaku islam. Banyak orang yang memutuskan berhijrah, entah karena trend, ikut-ikutan, ataupun ikhlas dari nuraninya. Berlomba posting foto hijrah sana-sini, entah karena ingin followers banyak, entah karena apa. Wallahua’lam bishshowab. Hijrah bukan hanya dalam berpakaian, tapi lebih utamanya akhlak, terutama di akhir zaman seperti ini, jarang orang yang berakhlak sesuai ketentuan nabi. Wanita... Wanita ibarat mutiara, yang disimpan rapih, dijaga jangan sampai lecet sedikitpun, dikeluarkan hanya sesekali, memiliki nilai tinggi dibanding perhiasan lainnya. Alangkah senangnya jika melihat wanita yang tutur katanya lemah lembut, tetapi tegas terhadap lawan jenis, sholehah, pandai dalam ilmu ag...

Someone Like You

Someone Like You Ketika matahari hampir sejajar di atas kepala, aku dan teman kelompokku mengerjakan suatu tugas salah satu mata pelajaran. Sebelum mengerjakannya, kami berkumpul dahulu di salah satu rumah temanku untuk menunggu anggota lain yang belum datang. Setelah anggota kami lengkap, kami pergi ke tempat observasi karena tugasnya adalah meneliti suatu kerusakan alam. Awalnya berjalan lancar, sampai akhirnya di pertigaan jalan, di tabrak oleh pengendara lain dari arah berlawanan. Akhirnya motor yang ku tumpangi oleng dan jatuh, samar – samar ku dengar teriakan orang sekitar. Aku mencium bau amis darah yang mengalir dari kepala, pandanganku buram dan akhirnya aku pingsan. Kesadaranku pulih saat ada udara dingin masuk ke dalam hidungku, dan saat itu ku dengar orang – orang mengucapkan “Alhamdulllah.” dan orang tuaku mendekati sambil melepaskan selang yang menempel di hidungku. “Oh, ternyata oksigen.” pikirku. Kemudian orangtuaku memanggil suster. Tak lama, susterpun datang...