Karena Hijrahku Karena DIA
Prolog
Hijrah...
Kata yang sangat
familiar ditelinga kita akhir-akhir ini. Hijrah pada zaman nabi adalah
berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Di zaman sekarang, hijrah
dijuruskan terhadap arti berpindah, pindah dari perilaku jahil menuju perilaku
islam. Banyak orang yang memutuskan berhijrah, entah karena trend, ikut-ikutan,
ataupun ikhlas dari nuraninya. Berlomba posting foto hijrah sana-sini, entah
karena ingin followers banyak, entah karena apa. Wallahua’lam bishshowab.
Hijrah bukan hanya
dalam berpakaian, tapi lebih utamanya akhlak, terutama di akhir zaman seperti
ini, jarang orang yang berakhlak sesuai ketentuan nabi.
Wanita...
Wanita ibarat mutiara,
yang disimpan rapih, dijaga jangan sampai lecet sedikitpun, dikeluarkan hanya
sesekali, memiliki nilai tinggi dibanding perhiasan lainnya.
Alangkah senangnya jika
melihat wanita yang tutur katanya lemah lembut, tetapi tegas terhadap lawan
jenis, sholehah, pandai dalam ilmu agama, pandai menjaga diri, dan kebaikan lainnya
yang pantas disematkan kepada wanita sholehah.
Sangat miris memang,
melihat fenomena zaman sekarang, fenomena akhir zaman. Wanita seolah-olah bebas
bergaul, bercampur dengan lawan jenis tanpa beban. Berpakaian tak senonoh,
ataupun berpakaian tapi telanjang, bahkan ada yang terang-terangan memakai
pakaian yang menimbulkan syahwat.
Andaikan, andaikan Rosululloh
masih hidup dan melihat fenomena seperti itu, apa yang akan kita katakan ? Apa
kita rela, kekasih Allah itu sedih melihat kondisi ummatnya ? Apa kita rela,
melihat manusia agung menitikkan air mata karena melihat keadaan seperti itu ?
Periksa hatimu !
Sadarlah wahai
sholihah, sadar, sesadar-sadarnya !
Kau itu indah, menarik,
tapi kelebihan itu bukan untuk dipamerkan. Kau harus melindunginya rapat-rapat,
serapat-rapatnya, usahakan ! Boleh berselfie ria, boleh, tapi hanya untuk
konsumsi sendiri. Meskipun fotomu menutup aurat, tapi tolong, jangan upload di
sosmed agar semua orang tahu, tertarik, mendapatkan followers banyak.
Na’udzubillaahimindzalik.
...
Ceklek.
Suara pintu terbuka,
menampakkan sosok pemuda tampan berdiri disana.
“Udah siap dek, ?”
tanya pemuda itu.
“Ayo kak, berangkat,
udah siang ini !” Jawab wanita berumur 21 tahun tersebut sambil bergegas menuju
halaman rumah.
...
“Hana !” panggil Naisya
dengan lantang, membuat seisi kelas melihat ke arah mereka.
“Apa sih Naisya,
ngagetin aja tau !” jawab Hana kesal.
“Ya kamunya aja
ngelamun dari tadi, mikirin apaan sih ?”
“Gak kok, gak papa.”
Jawab Hana sambil memasukkan buku ke dalam tas sederhananya.
“Jangan bohong kamu !”
“Nanti malem aku nginep
ya di rumah kamu ya !”jawab Hana.
Kalau
ada masalah, pasti ni anak bakalan nginep di rumah, eh, gak boleh suudzon, fikir
Naisya.
“Siap, mau langsung
pulang kuliah atau di jemput ?” tanya Naisya.
“Langsung aja, udah
kuliah sore langsung ke rumahmu.” Jawab Hana.
“Ya udah. Yuk, ke
kantin, lapar ini.” Jawab Naisya sambil memegangi perutnya.
“Yuk !”
...
“Nay !” Panggil Hana.
“Iya, kenapa Han ?”
jawab Naisya melirik Hana di sampingnya.
Malam ini Hana sedang
berada di rumah Naisya, sesuai permintaannya siang tadi.
“Aku mau ngomong
sesuatu nih !”
“Iya, ngomong apa ?”
jawab Naisya sembari memode sleep
laptop di pangkuannya.
“Jangan kaget ya !”
jawab Hana mulai gelisah.
“Iya Han, emang apaan
sih ? Jangan buat aku takut !” jawab Naisya.
Setelah beberapa menit
terdiam, Naisya mulai kesal dengan Hana, karena tak kunjung bicara.
“Mau ngomong apa sih
Han ? Aku mau lanjut nugas lagi ini.!” Naisya mulai kesal.
“Kalau gak mau ngomong
juga, aku.........”
Belum selesai Naisya
berbicara, Hana segera memotongnya,
“Aku di lamar sama Pak
Ibrahim.” Ucap Hana sekali tarikan nafas.
“Masya Allah !” ujar
Naisya takjub.
“Ternyata sahabatku
galau karena dilamar orang ganteng toh ?” ujar Naisya tersenyum.
“Iya, aku harus gimani ini
?” Hana terlihat panik.
“Ya, syukuri aja. Terus
gimana ?” tanya Naisya.
“Gimana apanya ?” tanya
Hana balik.
“Ya itu, lamarannya di
terima gak? emang bapak ke rumah kamu kapan ? Terus reaksi kakak sama ibumu gimana
? Ayahmu gimana ? Maharnya apa ?” berondong Naisya.
“Nanyanya satu-satu
dong ! Mahar ? Diterima aja belum.” Jawab Hana.
“Hah, berarti kamu mau
nerima Pak Ibrahim dong ?” tebak Hana.
“Enggak tahu.” Jawab
Hana.
“Lho, kok gak tau ?”
“Ya aku harus gimana ?”
tanya Hana bingung.
“Kamu lupa ya, jika ada
sesuatu yang meragukan yang mana yang harus di ambil atau di pilih harus
Istikharah ? Jadi, ya harus istikhoroh lah !”
...
Chapter 1
Suara deru kendaraan
beradu mewarnai pagi yang cerah ini. Disinilah aku, ditengah pengendara lainnya
yang berebutan jalan agar cepat sampai tujuan. Aku berkali-kali melirik jam
tangan yang terpasang manis di pergelangan tanganku.
07.30.
Huft, tiga puluh menit lagi kelas dimulai.
Kakakku berusaha menyalip kendaraan sana-sini. Setelah melewati kemacetan yang
hakiki, akhirnya kami melewati jalanan yang sepi dari kendaraan. Sepi bukan
tidak ada sama sekali kendaraan, namun, hanya beberapa saja, karena ini
merupakan jalan kecil yang bisa dilewati kendaraan roda dua dan empat.
Setelah sampai di
parkiran kampus, aku bergegas lari menuju kelasku sambil membawa setumpuk
kertas. Tak lupa, aku pamit dan mencium tangan kakakku, kemudian kakakku
membalasnya dengan usapan di kepalaku. Ah, so
sweet nya.
Ruanganku terletak di
lantai tiga gedung A. Aku berlari manaiki tangga agar cepat sampai. Sebenarnya,
gedung ini menyediakan lift, tapi keadaan aku yang kalang kabut itu, tidak
ingat kalau ada lift. Padahal lift saat itu sedang kosong. Karena dalam
fikiranku hanya tangga, jadi ya ku putuskan menaiki tangga.
Kelas nampak ramai, itu
artinya belum ada dosen yang masuk. Fuih, akhirnya aku selamat dari hukuman.
Fyi, dosen yang mengajarku hari ini terkenal killer, jadi aku harus
banyak-banyak bersyukur.
Aku segera duduk di
samping Naisya dengan nafas terengah-engah.
“Ck, untung dosen belum
masuk. Kalau udah, bakal kena sarapan pagi kamu Han !” ujar Naisya membantu
mengipasi aku yang berkeringat.
“Makasih udah
ngingetin.” Ujarku sedikit kesal. Pasalnya, aku pernah di hukum gara-gara
telat, padahal hanya telat 1 menit. Kurang killer apalagi coba dosenku ? Semenjak
itu, ku usahakan untuk tidak telat, walaupun kenyataannya hampir, nyaris telat.
“Assalamu’alaikum.”
Suara salam dari arah pintu menampilkan Pak Ilyas yang memakai kemeja merah
maroon dipadukan celana bahan berwarna hitam dan sepatu berwarna serupa,
membuat pesona wibawanya terpancar.
“Keluarkan satu lembar
kertas, hari ini kuis.” Ujarnya tanpa merasa bersalah.
“Ha.. kuis ?” seisi kelas
kompak berkata seperti itu sambil menunjukkan ekspresi bingung.
“Cepat, waktu kita
terbatas.” Ucap Pak Ilyas tegas.
Kurang lebih dua puluh
soal diberikan, itupun dengan anak cucunya. Aku mengisinya dengan
sunggug-sungguh.
Setelah dua jam
pelajaran berlalu, akhirnya kuis menegangkan itupun selesai. Aku merasa lega,
selega-leganya.
“Hana, bawa kertas ini
ke meja bapak ya nak !” titah Pak Ilyas dengan nada lembutnya.
“Baik, Pak.” Jawabku
bergegas mengambil tumpukan kertas jawaban.
Fyi, Pak Ilyas ini
sebenarnya baik, ia hanya akan tegas bukan galak ya, saat ngajar aja. Jadi, so enjoy it. Beliau juga tahu
kehidupanku seperti apa. Aku diperlakukan seperti anaknya sendiri, sehingga aku
merindukan sosok ayah. Ah, sudahlah jangan mengingatkan hal itu, hatiku sakit.
Aku dengan diantar
Naisya menuju ruang dosen dan mencari meja Pak Ilyas. Ah, sudah ketemu.
Walaupun aku cukup sering ke ruang dosen, aku selalu bingung mencari meja
beliau.
Ketika hendak keluar
ruangan, aku berpapasan dengan Pak Ibrahim di depan pintu masuk. Beliaupun
tersenyum, akupun membalasnya. Setelah itu, kami pergi ke mushola untuk sholat
dhuha dan tidak lupa juga muroja’ah.
...
Terdengar suara alunan
ayat suci yang dibacakan para mahasisiwi di mushola ini. Oh iya, kampusku
menerapkan hafalan qur’an dengan target tiga tahun sudah khatam hafalannya.
Jika tidak memenuhi target, tidak jadi masalah, setidaknya setengah Al-Qur’an
telah di hafal. Aku baru 25 juz di usia perkuliahan dua tahun. Sedangkan,
Naisya hanya 20 juz di usia perkuliahan dua tahun. Sebenarnya, aku juga nyantri
di pondok dekat kampusku, pun di sana juga menerapkan hafalan qur’an, sehinggan
terbantu untuk menyelesaikan hafalan. Semuanya terlihat khusyuk, tenang tentram
suasananya. Jadi betah lama-lama disini. Perkuliahanku dimulai setengah jam
lagi, kami bergegas membereskan kembali mukena ke tempatnya. Setelah itu, kami
pergi ke kelas. Hari ini adalah hari Senin, aku membiasakan diri puasa sunnah,
begitupun Naisya. Jadi, kami tidak pergi ke kantin, tapi langsung ke kelas.
Sambil menunggu kelas
di mulai, aku muroja’ah sekitar lima belas menit, dan membaca materi yang akan
diajarkan sekarang. Suara getar handphoneku membuyarkan konsentrasi, huft, aku
lupa mematikan data. Ada chat grup masuk, disana diberitahukan kalau dosen
berhalangan hadir. Kami bergegas ke pondok untuk mengikuti pelajaran disana.
Pondokku bernama Al-Hidayah, jarak dari kampus hanya beberapa ratus meter saja.
Kami menuju kesana dengan jalan kaki. Sebelum itu, aku memberitahu kakakku
kalau aku ke pondok.
Rasanya aku kangen
banget pada suasana pondok ini, padahal baru satu hari aku izin pulang. Aku
rindu tempat ini terutama pada ustadzahnya. Aku dengan ustadzah Aisyah dekat
sekali seperti ibu dan anak. Beliau adalah tempat ku bercerita setelah kepada
Allah tentunya dan juga kakak.
“Assalamu’alaikum Um.”
Ucapku saat melihat beliau sedang menjemur pakaian. Kami berdua menyalaminya,
dan bergegas mengambil alih pekerjaannya.
“Eh, ndak usah sayang,
biar ummi saja.” Ujar ummi Aisyah.
“Ndak apa-apa um, biar
kami saja.” Ucap Naisya sambil tersenyum.
Setelah selesai, kami
berpamitan dengan beliau, menuju kamarku.
Oh ya, aku mondok
disini sejak pertama kuliah, selain karena ingin menimba ilmu agama, akupun
ingin menjadi wanita sholehah di zaman yang populasi orang baiknya menurun
drastis ini. Sehingga antara ilmu agama dan dunia saling mengimbangi, tidak
berat sebelah.
Drtt..drtt..drtt..
Nada dering hp ku
berbunyi. Menampilkan nama kakakku.
“Assalamu’alaikum,
Kak.”
“Wa’alaikumussalam.”
Jawab di seberang sana.
“Kamu lagi di pondok ?”
tanya kakak.
“Iya kak, kenapa gitu
?” tanya ku balik.
“Mau balik pondok atau
pulang ?” tanyanya.
Sejenak, aku berfikir.
“Pulang aja deh kak.”
Jawabku akhirnya.
“Beneran ?” tanyanya
lagi.
“Iya kak. Kakak mau aku
balik pondok ?” tanyaku mengancam.
“Eh, gak gitu
maksudnya. Ya udah nanti kakak jemput. Jam berapa pulang ke rumah ?” tanyanya.
“Hm, sekitar jam
empatan deh kak.” Jawabku.
“Ya udah, kakak tutup
teleponnya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumusaalam.”
Jawabku.
“Siapa Han ?” tanya
Naisya.
“Kakakku, katanya dia
mau jemput aku nanti.” Jawabku.
“Duh, so sweet ya. Padahal cuma adik kakak.”
Ujar Naisya senyum-senyum gak jelas.
“Oh, kamu cemburu
?”tanyaku usil.
“Gak lah !” jawabnya
sembari memalingkan muka karena malu.
“Nanti aku bilangin
kakak deh, kalau kamu mau digituin sama dia.” Ujarku tersenyum lebar.
“Hush, kamu. Bukan
muhrim tau !” jawabnya.
“Kan, di halalin dulu.”
Jawabku tertawa melihat ekspresi Naisya yang, aduh susah di deskripsikan,
pokoknya lucu.
“Udah ah, ayo masuk ke
kamarmu !” ajak Naisya sambil pergi menuju kamarku.
Di pondok ini, satu
kamar biasanya berisi 4-5 orang. Di dalamnya, terdapat empat tempat tidur
bertingkat, lemari, juga dua kamar mandi. Walaupun pesantren ini tergolong
mewah, biaya perbulannya hanya tiga ratus tiga puluh ribu saja. Pesantren ini
pun memberikan beasiswa bagi santri berprestasi, aku salah satunya, hehehe.
Begitupun dengan kuliahku, aku pernah menjuarai debat antar provinsi, karya
tulis ilmiah tingkat nasional, pernah juga mengikuti debat bahasa Arab tingkat
internasional yang diadakan di Mesir tahun lalu. Meskipun aku sering mengikuti
lomba, aku tidak pernah ketinggalan matkul yang sudah diajarkan. Hal itu
terjadi, karena aku selalu bersegera meminta materi pada teman-temanku,
sehingga dapat aku kuasai. Uang bulanan pun di kasih dari pihak kampus sebesar
satu juta lima ratus ribu rupiah. Aku sampai tidak percaya, akan dikasih uang
sebesar itu. Uang tersebut 1/3 digunakan untuk kebutuhan diriku, 1/3 untuk
sedekah kepada saudara-saudaraku, terutama di Palestina dan negara Timur Tengah
lainnya, dan 1/3 lagi aku kasih ke kakak. Meskipun aku tahu kakak mendapatkan
beasiswa juga. Karena, kebutuhan kakakku lebih banyak.
Oh ya, kakakku sekarang
sedang menempuh S2 jurusan Bahasa dan Sastra Arab,semester empat, sama
sepertiku. Ia lebih memilih kuliah di kota kelahirannya, yaitu di kampusku
daripada di luar kota, luar negeri malahan. Padahal, ia pernah mendapatkan
beasiswa ke Mesir, Yaman, Mekkah, Turki, dan beberapa negara lainnya. Tapi ia
lebih memilih kuliah disini, mau tahu alasannya ? Ia ingin agar aku ada yang
mengawasi. Ia tidak terlalu percaya sama orang untuk mengawasi diriku. Katanya,
aku adalah orang yang berharga setelah Ummi. Ia telah tuntas menghafal
Al-Qur’an ditambah beberapa ribu hadits. Ia juga mondok, sama seperti diriku,
hanya saja, ia beda pondok. Ya iyalah. Pondokku kan khusus akhwat, pondok
kakakku khusus ikhwan.
Kata orang-orang,
kakakku bukan hanya memiliki wajah tampan, juga manis. Memiliki jenggot tipis,
bulu mata lentik, postur tinggi dan gagah. Tapi, menurutku biasa aja. Kakakku,
ya kakakku. Orang yang suka jail denganku. Ups !
Tak heran, mulai dari
teman seangkatanku, teman kakakku, bahkan sampai dosen wanitanya pun menaruh
perhatian lebih. Pesonanya memang mengalahkan artis-artis bollywood. Tapi,
kakakku selalu cuek dengan semua itu, cukup tugas saja yang menjadi beban,
jangan para fans, katanya. Aku selalu tertawa jika mengingat itu.
Pernah, ada yang sampai
memberikan souvenir gantungan kunci asli beli dari Dubai. Tau reaksi kakakku ?
Ia malah memberikannya padaku. Katanya, cocok buat aku. Beuh, itu kalau orang
yang memberinya tahu, kalau gantungan kuncinya diberikan padaku, sudahlah
jangan dibayangkan.
Aku bergegas mengambil
kitab yang disimpan di lemari. Ada beberapa macam kitab, mulai dari yang tipis
sampai tebal. Semua kitab tersebut dijual di koperasi pondokku. Aku membelinya
dari uang beasiswa pondok. Beasiswa yang ku terima sebesar dua juta per bulan.
Aku gunakan sebagian untuk kebutuhan pondokku, sebagian lagi aku sedekahkan
kepada fakir miskin dan yang lainnya. Aku segera bergabung bersama mereka yang
telah dulu memulai kajian kitab. Oh ya, di pondokku bukan hanya anak kuliahan
saja yang nyantri disini, ada juga anak SLTA yang sekalian mondok disini.
Bedanya, kami sebagai anak kuliahan, pengajian dimulai setelah ashar hingga
pukul dua belas malam. Sedangkan, untuk anak SLTA, dimulai setelah dzuhur
hingga pukul sepuluh malam. Penghuni kamar bukan hanya diisi oleh satu teman
sekolahan atau seperkuliahan, bisa juga campur. Seperti halnya diriku, kamarku
diisi oleh dua anak SLTA dan satu teman seperkuliahan.
Aku menyimak penjelasan
ustadzah tentang kehidupan Rosululloh dalam kitab sejarah hidup nabi. Bagaimana
akhlak beliau, dimulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Air mata tak terasa
membasahi pipi tatkala ustadzah menceritakan perjuangan nabi berdakwah, dari
mulai di ludahi sampai di lempari batu hingga berdarah. Temanku pun yang
lainnya menangis tersedu-sedu. Suara tangis mereka semakin kencang, saat
ustadzah menceritakan detik-detik wafatnya Rosululloh. Tangis pun pecah, tak
terkecuali ustadzah Zainab. Pelajaran tidak dilanjutkan, karena kondisi yang
tidak memungkinkan. Semuanya masih berlarut-larut dalam kesedihan mengingat
perjuangan Rosululloh. Aku masih duduk termenung, dalam hati bertanya-tanya,
apakah aku bisa bersanding bersama Rosululloh kelak di surga-Nya ? Surga
tertinggi, yang hanya dimasuki oleh orang pilihan. Rasanya tidak pantas. Apalah
aku, seorang hamba hina berlumur dosa. Tapi, aku akan berusaha meraihnya,
mencari ridho-Nya, agar kelak bisa berkumpul bersama Rosululloh.
Jam menunjukkan pukul
11.45, lima belas menit lagi waktu dzuhur. Kami bergegas mangambil air wudhu
dan memasuki mushola. Jamaah ikhwan dan akhwat terhalang oleh papan tinggi
setinggi dua meter. Hal itu dilakukan agar mereka tidak saling mencuri pandang.
Bisa bahaya kalau hal itu terjadi, hehe.
Sholat dilakukan dengan
khusyuk, tenang, seolah terpancar energi positif yang membuat siapapun betah
berlama-lama disana.
“Assalamu’alaikum
warahmatulloh.”
“Assalamu’alaikum
warahmatulloh.”
Setelah salam, kami
membaca dzikir bersama. Ketenangan jiwaku, membuat aku ingat dosa-dosa di masa
lampau. Tak terasa, air mataku menetes membasahi pipi. Aku membaca istigfar
berulang kali, merasa dosaku melebihi besarnya bumi. Tak lupa, aku juga membaca
do’a, terutama untuk ummi. Air matakupun mengalir deras. Semoga dosa ummi
diampuni oleh Allah, aamiin.
Komentar
Posting Komentar