Someone Like You
Ketika matahari hampir
sejajar di atas kepala, aku dan teman kelompokku mengerjakan suatu tugas salah
satu mata pelajaran. Sebelum mengerjakannya, kami berkumpul dahulu di salah
satu rumah temanku untuk menunggu anggota lain yang belum datang. Setelah
anggota kami lengkap, kami pergi ke tempat observasi karena tugasnya adalah
meneliti suatu kerusakan alam.
Awalnya berjalan
lancar, sampai akhirnya di pertigaan jalan, di tabrak oleh pengendara lain dari
arah berlawanan. Akhirnya motor yang ku tumpangi oleng dan jatuh, samar – samar
ku dengar teriakan orang sekitar. Aku mencium bau amis darah yang mengalir dari
kepala, pandanganku buram dan akhirnya aku pingsan.
Kesadaranku pulih saat
ada udara dingin masuk ke dalam hidungku, dan saat itu ku dengar orang – orang
mengucapkan “Alhamdulllah.” dan orang tuaku mendekati sambil melepaskan selang
yang menempel di hidungku. “Oh, ternyata oksigen.” pikirku. Kemudian orangtuaku
memanggil suster. Tak lama, susterpun datang sambil membawakan obat yang harus
segera aku minum. Untung saja obatnya tidak terlalu pahit, sehingga aku mau
meminumnya.
Setelah itu, aku di
cerca pertanyaan oleh orangtua dan saudara yang hadir saat itu. Nasihat – nasihatpun aku terima, ada juga
yang memarahiku. Aku hanya diam saja mendengarkannya. Kemudian terlintas di
pikiranku bagaimana keadaan temanku yang satu motor denganku. Seolah ibuku
mengetahui apa yang aku pikirkan, beliau pun mengatakan, “Temanmu tidak apa –
apa, hanya luka lecet saja.” Huh leganya aku saat mengetahui keadaan temanku.
Jujur saja, aku tidak
suka di rawat di rumah sakit, kenapa, karena aku benci bau obat – obatan,
bertemu orang sakit, satu kamar dengan pasien lainnya dan ini yang paling aku
tidak suka, yaitu jarum suntik. Sejak SD pun aku takut dengan suntikan, aku
teringat waktu SD dulu ketika di suntik, aku bersembunyi di bawah meja.
Kurang lebih dua hari
aku di rawat, aku pun pulang karena aku memaksa pada ayah agar segera pulang,
dan untungnya ayah menuruti keinginanku.
Saat pulangpun tiba.
Debaran jantungku semakin kencang saat dua suster masuk untuk melepaskan selang
infus di tanganku. Jujur aku nangis saat itu karena takut dan ngilu rasanya.
Aku merasakan perih dari bekas infus dan ternyata darahku mengalir. Suster
itupun menempelkan tisu yang telah ditetesi alkohol. Rasa perih itupun mulai
reda. Aku segera berjalan menuju mobil sambil dipegangi oleh ayah.
Sepekan sudah aku
bersekolah, kesehatanku mulai membaik. Aku menjalani aktivitas seperti
biasanya. Akupun sudah aktif berorganisasi kembali di OSIS.
Banyak temanku yang
menanyakan tragedi yang aku alami. Entahlah, aku suka dengan ini, merasa di
perhatikan teman. Ada yang memarahi, menasehati, dan lainnya.
...
Hana membereskan
buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya. Ia telah menyiapkan laporan
evaluasi kinerja OSIS untuk dipresentasikan di acara sertijab.
Cekrek..
Suara pintu kamar Hana
terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya dengan wajah tenangnya berdiri
disana.
“Sarapan dulu nak, ada
Naisya di ruang tamu.”
“Iya mah, sebentar
lagi.” Jawab Hana.
Rina segera menutup
pintu dan menghampiri Naisya yang telah datang sejak lima belas menit yang
lalu.
Hana pun bergegas
menuju ruang makan untuk sarapan, tak lupa Naisya pun diajaknya.
“Nih, pake !” Ujar
Naisya sambil memberikan helm kepada Hana untuk dipakai.
“Kenapa si Nay, kesel
amat kayaknya ?” tanya Hana.
“Makanannya gak enak ya
?” lanjut Hana.
Hana bertanya seperti
itu seolah-olah tidak tahu apa-apa, padahal, Hana tahu akan kekesalan Naisya
akibat Naisya yang menunggu terlalu lama.
“Tau ah.!” Ketus Naisya
Sambil menyalakan motor maticnya.
“Buru naik !”
“Iya mau.” Ujar Hana
segera menaiki motor.
...
Dekorasi ruangan
menghiasi auditorium tempat dilaksanaknnya sertijab. Hana tampak terkagum-kagum
melihatnya.
Mewah.
Kesan
pertama Hana.
“Hei, sudah siap
laporannya ?” tanya seseorang yang mengagetkan Hana.
“Astagfirulloh !”
“He..he.. maaf, maaf.”
Ujar Arnan dengan senyumnya yang terlihat cool, mungkin.
“Ah, ya. Udah siap kok.
Tinggal presentasi aja.” Jawab Hana gugup.
“Oh, ya udah, aku
kesana dulu.” Pamit Hana tergesa-gesa.
“Silahkan.” Jawab Arnan
dengan senyum coolnya lagi.
Sebenarnya, alasan Hana
buru-buru pergi dari hadapan Arnan bukan hanya ingin membantu rekannya yang
lain, tapi dia ingin menghindari Arnan yang seolah-olah ingin mendekatinya.
Hana bukan orang yang
suka bergaul dengan lawan jenis. Sebisa mungkin dia akan menjaga jarak dengan
lawan jenis. Pun dengan Arnan. Ia lebih memilih pergi daripada harus bertemu
dengan Arnan.
...
“Terima kasih atas sambutannya, selanjutnya....”
Suara pembawa acara
terdengar menggema di ruangan. Hana bergegas maju menuju podium saat namanya di
panggil.
“Bismillah, pasti bisa.”
Ucapnya, menyemangati
dirinya sendiri.
Semua mata tertuju
padanya, tak terkecuali Arnan, yang menatapnya terang-terangan, membuat Hana
terus menundukkan kepalanya.
Suara Hana menggema di
ruangan tersebut, seolah-olah terhipnotis dengan suaranya. Padahal, yang
dibacakan Hana hanyalah sebuah laporan evaluasi, tapi seolah ada daya tarik
yang membuat penonton tertuju padanya tanpa ada yang mengalihkan pandangannya.
Atau mungkin semua
penonton terkagum padanya, yang memiliki paras tidak terlalu cantik, namun
manisnya bisa mengalahkan gula ?
Atau mungkin setelan
pakaian yang dikenakannya terlalu menarik perhatian orang-orang ? Padahal ia hanya
mengenakan seragam putih abu, sama seperti murid lainnya. Oh, jangan lupakan
khimar yang menutupi kepala, yang menjuntai panjang hingga lutut, semakin
memberikan kesan manisnya seorang Hana.
“Terima kasih atas pembacaan laporannya, selanjutnya....”
Hana tersenyum saat
melewati bapak pembina OSIS, dan langsung mengalihkan pandangan saat matanya
bertemu dengan Arnan, sosok pemilik senyum cool
itu.
“Bagus penampilan kamu
Han, suaramu bagus, tegas.” Ujar Naisya saat Hana telah duduk disampingnya.
“Makasih lho Nay.”
Jawab Hana bangga.
...
“Mau pesen apa Han ?”
tanya Naisya saat berada di kantin.
“Kaya biasa aja, tapi
jangan terlalu banyak sambalnya.” Jawab Hana.
“Wokeh.” Jawab Naisya
sambil mengacungkan jempol.
“Hoiiii....”
“Astagfirulloh !” Hana
terlonjak kaget.
“Huh, kagetan.!”
“Ya iyalah, dikagetin
ya jadi kaget, kebiasaan deh kalau dateng ngagetin, ucapin salam dulu kek !”
ujar Hana marah.
“Yey, gitu aja
ngambek.”
“Eh, ada Najwa.” Naisya
datang dengan nampan berisi dua mangkok bakso dan es teh manis.
“Iya nih Nay.” Jawab
Najwa.
“Eh, itu kenapa mukanya
princess di tekuk gitu ?” tanya
Naisya.
“Tau tuh, temenmu lagi
badmood kali !” Jawab Najwa sambil memanggil mamang bakso.
“Kenapa si Han,
perasaan tadi gak kaya gini ?” tanya Naisya sambil mengaduk bakso.
“Kalau lagi kesel
jangan di lampiaskan ke orang lain, kasian tau !” lanjut Naisya.
“Eh Nay, nanti malam
aku nginep di rumah kamu ya ?” tanya Hana meminta persetujuan.
“Ok deh.” Jawab Naisya.
Pasti
ada sesuatu nih, eh gak boleh suudzon. Batin Naisya.
“Makasih mamang.” Ujar
Najwa ketika semangkuk bakso sudah berada di depannya.
Mereka pun makan
bersama tanpa ada yang berbicara.
...
“Mungkin cukup sekian penjelasan dari saya, jangan lupa tugasnya
dikerjakan.”
Berbarengan dengan
suara bel berbunyi, Hana segera membereskan buku-buku ke dalam tasnya.
“Astagfirulloh !” ujar
Hana terlonjak kaget.
Di depannya ada sosok
yang selama ini berusaha mendekati Hana.
“Ini surat untuk kamu,
jangan lupa balas.” Ujar Arnan sambil menyodorkan sepucuk surat beramplop pink.
Dengan ragu-ragu, dia
menerima surat itu dan langsung memasukkannya ke dalam tas dan segera keluar.
“Mari !” ujar Hana saat
melewati Arnan.
Hana tampak buru-buru
meningalkan kelas. Ia tidak ingin terlalu lama di dekat Arnan.
Kira-kira
isi suratnya apa ya ?
Tanya Hana dalam hati.
Ia bergegas menghampiri
Kak Zakia yang sudah stand by dengan
motor maticnya di dekat halte.
“Assalamu’alaikum kakak
syantiknya akoh !”
“Wa’alaikumussalam.
Biasa aja kali jangan lebay !” jawab Zakia sebal.
“Iya, iya, maafin.”
Hana bergegas menaiki
motor dan memegang erat pinggang kakaknya itu.
Hana dan Zakia memang
dekat seperti saudara kandung lainnya, meskipun perbedaan usia yang lumayan
jauh sekitar lima tahun.
Mereka melewati jalanan
yang tidak terlalu ramai, sejuknya angin sore menerpa wajah mereka.
Zakia dengan gamis maroonnya dan kerudung warna hitam,
menambah kesan anggunnya wanita yang tengah melanjutkan S2 nya itu.
Sedangkan Hana, dia
terlihat menikmati perjalanannya tanpa ada beban.
Oh, sungguh indahnya.
“Assalamu’alaikum.”
Ucap Hana dan Zakia saat masuk ke dalam rumah.
“Wa’alaikumussalam.”
Jawab seseorang dari dalam.
“Eh, anak mamah udah
pulang ?” tanya Rina menyambut kedua anaknya.
“Iya mah.” Jawab Hana
sambil mencium tangan dan pipi mamahnya itu.
“Sana ganti baju, terus
makan !” suruh Rina.
“Iya mah. Papah belum
pulang ?” tanya Hana.
“Belum, nanti mungkin
sekitar tiga puluh menit lagi.” Jawab Rina hendak kembali ke dapur.
Sedangkan Zakia,
setelah salaman, bergegas masuk ke kamar untuk istirahat sebentar setelah
melakukan perjalanan panjangnya.
For
you information, Zakia mendapatkan beasiswa S2 di
Universitas Ummul Quro Mekkah setelah sebelumnya menempuh pendidikan S1 di
salah satu universitas Islam di Jakarta. Karena, sekarang adalah waktunya
liburan bagi anak kuliah, Ia lebih memilih pulang ke Indonesia, rindu katanya,
apalagi dengan tingkah adiknya itu. Dia tak lupa membawakan oleh-oleh yang
dipesan adiknya saat akan pulang. Hana memesan abaya asli dari sana, sudah lama
ia mengidamkan baju berwarna hitam tersebut.
Setelah ganti baju,
mandi dan sholat, Hana segera menuju ruang makan. Disana telah tersaji makanan
kesukaan Hana, diantaranya adalah sambal teri, sayur asem, kerupuk, ikan asin,
jangan lupakan pudding susu
kesukaannya.
Disana sudah ada papah,
kak Zakia, juga Mamah.
“Papah udah pulang ?”
tanya Hana sambil menyalaminya.
“Iya sayang.” Jawab
papah sambil tersenyum.
Kemudian mereka
menikmati santapan sore yang telah dihidangkan lima belas menit yang lalu.
“Pah.” Panggil Hana,
membuat semua orang melihat kepadanya.
“Iya, ada apa nak ?”
tanya Firman.
“Ana boleh nginep di
rumahnya Naisya gak ?” rajuk Hana.
Ana adalah panggilan
kesayangan papah.
“Boleh, biasanya juga
suka nginep kan ?” tanya Firman.
“Sekalian nemenin tante
Fatimah juga.” Lanjutnya.
“Ok Pah.” Ucap Hana girang
disertai senyuman terbaiknya.
Makan sore telah usai,
Hana segera membereskan piring-piring kotor dan membawanya ke dapur untuk di
cuci. Sudah menjadi kebiasaannya, setelah makan selalu mencuci piring sendiri.
Setelah beres mencuci
piring, ia menuju ruang tv untuk melepas penat.
“Ck, banyak tayangan gosip.” Ujarnya dalam hati. Kemudian, Ia
mematikan layar televisi dan bergegas menuju kamarnya. Ia mengambil benda pipih
persegi berlogo apel tergigit berwarna abu tersebut. Disana tertera lima belas
panggilan tak terjawab dan dua puluh pesan yang belum terbaca. Hana membuka
pesan yang ternyata dari Naisya.
“Jadi nginep ?”
“Han, mau nginep ?”
“Nanti aku jemput.”
“Aku mau beli martabak
kalau jadi, kalau gak ya udah.”
Ha
! Martabak. Jerit Hana kegirangan.
Hana segera membalas
pesan seketika makanan kesukaannya di sebutkan.
Ia segera menuju kamar
mandi untuk melakukan ritual rutinnya.
Usai mandi, ia
mengenakan pakaian hitam dari Timur Tengah. Ia terlihat cantik dengan abaya
hitam yang dibelikan kakaknya itu.
Ck. Padahal abayanya
belum di cuci. Dasar Hana.
Tak lupa, ia memakai
sedikit bedak bayi.
Ceklek.
Suara
pintu kamar terbuka menampilkan perempuan yang dibalut gamis hijau tua.
“Eh, udah dateng.” Sapa
Hana dengan cengiran lebarnya.
Naisya diam saja.
“Udah dari tadi ?”
Tanya Hana kembali.
Naisya langsung duduk
di atas kasur.
“Ayo, jadi berangkat
enggak ?” tanya Hana sekali lagi.
“Ayo.” Jawab Naisya
kesal.
Setelah berpamitan pada
orang rumah, mereka bergegas menuju kediaman Naisya. Tapi kali ini ada yang berbeda,
Hana yang mengendarainya. Ia memaksa untuk membawa motornya, padahal dia belum
terlalu lancar. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Naisya mengizinkan Hana
membawa motor.
Dasar Hana.
...
“Ayo sholat Isya dulu
!” Ajak Naisya.
“Ayo.”
Mereka kini tengah
berada di kamar Naisya.
“Assalamu’alaikum
warohmatulloh.”
“Assalamu’alaikum
warohmatulloh”
...
Sebenarnya alasan Hana
menginap adalah ia ingin mengikuti kajian yang diadakan di masjid yang berjarak
sekitar satu kilo meter.
Setelah, mengerjakan
sholat Isya, mereka bergegas pergi ke tempat kajian khawatir tidak kebagian
tempat.
...
Aku dan Naisya segera
berangkat, tidak menggunakan motor, tapi jalan kaki. Beranikan aku ? Sebenarnya
banyak pula tetangga Naisya yang pergi kajian, jadi kami ikut bersama mereka.
Oh iya, Naisya adalah
sahabat terbaik aku. Dia itu sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Dia juga
paling semangat mengajakku kajian, hampir tak pernah ia absen mengikutinya.
Hebat kan dia ? Pernah ia mengajakku ke acara berkumpulnya muslim seluruh Indonesia
atau acara 212, padahal waktu itu ia hanya mempunyai uang Rp 20.000. Pernah juga, ia mengajakku ke Islamic Centre di pusat kota. Waktu itu
berangkat pukul sembilan malam. Bayangkan, jam sembilan malam, di saat orang
lain memilih tidur, kami nekat pergi padahal acara di mulai jam delapan. Kurang
nekat apa coba sahabatku ? Kerenkan ? Ia
pun hampir digigit ular saat pulang kajian, ketika itu, ia pulang larut malam
dan melewati hutan. Untung ia segera menghindar dan lari. Ia pun selamat.
...
Hari ini adalah hari
dimana semua orang merasakan tegang yang luar biasa. Bagaimana tidak ? Hari ini
adalah hari pengumuman kelulusan setelah melewati ujian-ujian yang melelahkan
jiwa.
Waktu terus berjalan
seolah tak mau berhenti.
“Di sini ada yang tidak lulus.”
DEG !! Ucapan wali
kelasku membuat aku merinding. Bagaimana tidak, jika ada yang tidak lulus, dia
harus mengulang kembali satu tahun. Oh, memalukan !
“Yang tidak lulus adalah...” Lanjutnya yang membuat semua siswa
menegang.
“Yang tidak lulus adalah...” ulangnya lagi.
“Yang tidak lulus adalah, yang tidak hadir hari ini.”
Otomatis semua orang
melirik kesana kemari melihat siapa yang tidak hadir. Wajah keheranan muncul di
setiap wajah siswa.
Perasaan
hadir semua deh !
“Pak, semuanya hadir
kok, Pak !” ucap ketua kelasku.
“Berarti kalian lulus
semua.” Ujar wali kelasku beberapa saat kemudian.
“Alhamdulillah.” Sorak
semua mengucapkan hamdalah berbarengan.
Ada yang menangis,
terharu, bahagia, semuanya campur aduk. Ternyata kerja keras tak mengkhianati
hasil.
Setelah kelulusan, aku
mentraktir Naisya makan bakso. Entahlah, mungkin karena terlalu bahagia, aku
jadi ingin mentraktir dia.
...
“Eh Han, nanti malam
Jum’at ada kajian lho. Datang yuk, nanti aku jemput deh.” Ajak Naisya.
“Hm, gimana ya ?”
“Jangan gimana gimana,
pokoknya ikut.” Tambahnya lagi.
Aku tau kalau Naisya
sudah mengajak, harus di penuhi. Aku pun mengiyakannya.
“Iya, iya...” ujarku
akhirnya.
...
“Tadi, masyaallah ya,
jamaahnya banyak. Untung kebagian tempat.” Ujarku setelah berhasil keluar dari
masjid penuh sesak itu.
“Iya, alhamdulillah.
Berarti semangatnya membara.”ujar Naisya dengan senyumannya yang meneduhkan.
Seperti biasa, jika ada
kajian, aku selalu menginap di rumah Naisya.
Tetapi saat dekat rumah Naisya, ia
memegang kakinya karena sakit. Ia meringis kesakitan. Saat ku lihat, ternyata
ada ular berwarna coklat, itu kan ular cobra. Ular mematikan !
“Aduh Hana, sakit banget ini.”
Rintihnya.
Aku panik dan segera membantunya
berjalan.
Segera setelah sampai rumahnya, ibunya
membawa ke rumah sakit terdekat. Ia terlihat panik, bagaimana tidak, anak
perempuan satu-satunya itu kini terlihat memucat.
Setelah sampai di UGD, ia langsung di
bawa ke ruang ICU. Aku segera menelpon orang tua ku untuk datang kesini.
Tepat lima belas menit setelah mereka
datang, Naisya menghembuskan nafas terakhirnya. Aku segera menerobos masuk ke
ruangannya, tanpa mempedulikan teriakan orang-orang. Aku melihat ia terbaring
lemah tak berdaya.
“Hey, bangun !” teriakku sambil
menggoyang-goyangkan tubuh Naisya dengan keras.
“Jangan tidur, bukankah kamu berjanji
mau ngajak aku kajian ke luar kota ?”
“Hey, bangun. Kamu jahat ! Kamu gak
dengar apa kata aku !” aku berteriak keras sampai kakakku mencoba membawa
keluar ruangan, namun aku memberontak dan memukulnya. Aku kalap saat itu, ditinggal
sahabat karib.
“Tante Fatimah, bangunin Naisya. Tante
!” aku menghampiri tante yang menangis tersedu-sedu.
Ku lihat dokter membereskan alat yang
menempel pada tubuh Naisya.
Dasar
kobra sialan ! Berani-beraninya ia membunuh sahabatku. Awas kau, akan ku bunuh
pula dirimu !
Aku tak kuasa saat jenazah Naisya dibawa
ke ruang jenazah untuk dimandikan.
...
Kabar kematian Naisya pun segera
tersebar ketika ayahku mengabari ke tetangga terdekat. Di sini, di rumah
Naisya, banyak orang berkumpul untuk membacakan Al-Qur’an.
Aku tidak bisa menahan tangisku. Setelah
sebelumnya pingsan karena kelelahan, aku kembali menagis.
Sambil menagis, ku ingat kenangan kami
dahulu. Saat ia mengajakku memakai pakaian pantas, sering mengajakku kajian.
Memori itu terus berputar di kepalaku. Aku memeluk kak Zakia dengan erat dengan
menangis tersedu-sedu. Padahal, baru kemarin kami merayakan kelulusan,
terpancar jelas di wajahnya kebahagiaan. Namun, sekarang keadaannya berubah
drastis.
Terima kasih sahabatku, semoga kita bisa
berkumpul bersama di surga-Nya, seperti yang dulu kau impikan.
Komentar
Posting Komentar